Lebih Nyata Dari Pena

>> 23 Des 2011


“Menulis itu mudah daripada membaca.”

Kalimat itu masih saja terngiang ditelingaku, ucapan dari dosen pembimbingku setelah membanting beberapa lembar tulisan tugas akhirku ke atas meja dan pergi meninggalkanku yang terdiam, kesal. Bagaimana tidak? seenaknya saja ia mengatakanku itu, tidakkah ia merasakan betapa sulitnya aku menyusun kata demi kata dari buku-buku teori yang tebalnya seperti bantal atau tidakkah merasakan betapa sulitnya aku mengumpulkan data hasil analisisku? Sialan.

Kini aku melangkah menyusuri gang sempit menuju kamar kos yang sudah beberapa tahun aku tempati di kota ini. Beberapa menit kemudian aku sudah berhadapan dengan komputer dan buku-buku. Apa selanjutnya? Aku hanya duduk termangu, memerhatikan layar komputer dengan microsoft word yang masih kosong seperti pikiranku. Entahlah apa yang harus kulakukan? Tiba-tiba saja aku menjadi seseorang yang bodoh.

Kureguk kopi hitam, kemudian kunyalakan rokok. Mataku memandang seisi kamar, berantakan seperti dalam dadaku. Kegelisahan dari sebuah cita-cita yang sungguh menyebalkan jika harus melakukan pengorbanan, kenapa segala hal di dunia ini harus ada kesulitan? Kasur lipat dengan setumpuk pakaian kotor menambah dadaku semakin sesak, segera saja kualihkan pandangan ke dinding-dinding kamar. Sebuah gambar menjadi pusat perhatian, gambar yang sudah menempel di dinding itu semenjak aku mengontrak kamar ini. mungkin dulu penghuni kamar ini adalah seorang mahasiswa maniak yang hidupnya dihabiskan untuk membaca buku. Einstein, itulah rupanya.

Kudekati, dan berdiri tepat di depannya. Wajah tua yang lucu (sebagian orang bilang gila), rambut putih, dengan lidah menjulur persis seperti orang kepedasan. Leluconku mulai tumbuh di kepala, daripada pusing memikirkan tugas akhir lebih baik aku bersolek, lebih tepatnya berakting. Rambut kubuat berantakan dan kulit wajahku segera kukerutkan kemudian lidah kujulurkan persis seperti Einstein, berulang kali aku melakukan dengan berlenggak-lenggok, lalu aku pun tertawa sendirian. Memang sudah gila.

Merasa cukup aku pun merebahkan tubuh di kasur lipat dengan mata yang terus memandang gambar itu. tiba-tiba...

“Orang tolol.” Terdengar suara yang entah darimana datangnya. Aku mencari sumber suara, nihil.

“Mencari apa kamu. Tolol.” Sekali lagi terdengar.

“Siapa kamu?” Kuberanikan diri bertanya.

“Einstein.”

“Hah.” Terperanjatlah aku mendengar nama itu, lalu ku dekati gambar.

“Kau tidak pantas bergaya seperti aku.”

Ini benar-benar ajaib, gambar itu berbicara kepadaku. Dan aku hanya bengong menatapnya.

“Mengapa diam? Bukankah kau tengah berpikir menjadi aku?” Tanyanya.

“Mu... mung.. mungkin. Sebenarnya aku tengah kesulitan untuk menulis.” Jawabku berusaha menguasai diri.

“Kau tidak akan pernah bisa menulis apa-apa tanpa mengetahui untuk apa menulis.”

“Maksudmu?”

“Benar sekali kau memang orang tolol.”

“Jelaskan padaku?”

Berulang kali aku bertanya pada gambar itu, akan tetapi suaranya sudah tak muncul kembali. kudekati hingga wajahku menempel di wajahnya, akan tetapi ia masih saja bisu. Kurebahkan kembali badanku sementara pikiranku terus saja berpikir tentang kalimat terakhir darinya. Mengapa ia berkata seperti itu? Perlahan, kuingat kembali perjuanganku masuk ke universitas negeri di kota ini dan mengambil jurusan filsafat. Tentunya bukan hanya sekadar main-main belaka, aku ingin menjadi seorang sarjana filsafat, memberikan pencerahan bagi setiap orang termasuk hidupku. Akankah aku gagal dari mendapatkan gelar itu hanya dengan sebuah tugas akhir, bukankah itu berarti aku hanya seorang pecundang. Lalu apa gunanya pengorbanan selama ini?

Aku terperanjat, mungkin ini yang dimaksud Einstein tadi bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus memiliki dasar dan tujuan, begitu pun dengan menulis. Seseorang harus memiliki cara pandang dalam menulis, untuk apa dan untuk siapa? Bukan hanya sebuah tugas akhir. Para penyair, penulis dan sastrawan, profesor mempunyai alasan untuk menulis sehingga ia tak pernah membuang waktunya untuk urusan yang tidak jelas. Itulah sebuah kunci dalam melakukan sesuatu, niat. Sebuah kata yang sungguh lebih nyata dari goresan pena.



Orang tolol. Memang pantas aku menyandang itu jika hanya memikirkan kekesalan dan dendam dari sebuah kritikan dari dosen pembimbingku tanpa melakukan sesuatu. Tanpa pikir panjang aku pun beranjak menuju komputer lalu menulis.

Read more...

Lebih Gelap Dari Malam

>> 9 Des 2011


Stasiun kota pagi ini terlihat ramai, terlalu ramai untuk ukuran sebuah stasiun. Apa yang terjadi? Orang-orang saling berbisik, membicarakan sesuatu hal yang terdengar aneh. Semakin aneh, ketika mereka memperbincangkannya. Beberapa petugas stasiun pun tengah berjaga-jaga bersama polisi setempat, suasana pagi yang terlalu menegangkan. Aku berusaha untuk tidak perduli, lembar demi lembar majalah ku baca sambil menanti kereta tujuan. Tiba-tiba seorang wanita menghampiriku kemudian menampar wajahku.

“Dimana kau sembunyikan anakku?” Bentaknya.

Aku terkejut, namun berusaha untuk tenang. Ku tatap matanya memerah menyimpan kemarahan yang teramat sangat. Wanita dengan tubuh kurus, giginya gemeratak. Ia gelisah, sangat gelisah ketika beberapa petugas stasiun berlari menghampiri kami. Tanpa basa-basi mereka memborgol wanita itu, ia berontak dan terus mengoceh.

“Aku bukan penjahat, perempuan ini yang telah menculik anakku. Aku tahu, beberapa malam yang lalu ia berada di sekitar rumahku. Tolong percayalah!!” Isak tangisnya tak bisa terbendung.

Petugas-petugas itu bimbang, mereka menatap wajahku yang masih merah akibat tamparan wanita itu. Kemudian salah satu dari mereka menyuruh aku mengikutinya menuju ruang keamanan. Aku masih saling bertatapan dengan wanita itu, pandangan kami membuat garis tersendiri, sebuah garis yang mengakibatnya adanya takdir dan nasib. yaitu pertemuan.

“Bisa anda ceritakan ketika anda berada di kota ini?” Tanya kepala petugas setelah melihat kartu pengenalku.

“Aku tidak kenal wanita itu, dan aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan.” Jawabku dengan nada kesal. Wanita itu kembali ingin menyerangku, namun petugas menahannya kemudian dibawa ke sudut ruangan.

“Ceritakan saja, agar semuanya jelas.”

“Baiklah, beberapa hari aku di sini hanya ada keperluan bisnis. Dan aku tinggal di hotel yang disewa oleh perusahaanku, aku bisa buktikan.” Aku mengambil bukti kwitansi pembayaran hotel atas nama perusahaanku dari tas pinggangku.

Beberapa saat kemudian seorang petugas memasuki ruangan dan berbisik ke kepala petugas yang mengintrogasiku. Kemudian mereka memandang wajah wanita itu dengan pandangan yang aneh, seperti pandangan seorang pemburu yang kehilangan bidikannya. Ruangan ini semakin terasa asing bagiku, suasana yang diliputi perasaan-perasaan bimbang dan gelisah, tanpa adanya sebab dan akibat. Sampai detik ini pun aku tak mengerti mengapa aku tiba-tiba terlibat dengan permasalahan yang aku sendiri tidak pernah mengalaminya. Aku melihat jam dinding, suaranya tengah mengabarkan ketegangan, suara kesedihan. Sementara wanita itu terisak-isak memilukan, kami semua hening turut merasakan kepedihannya.

“Aku akan mengantar anda ke gerbong barang, dimana suami dan putri anda tengah berbaring dengan tenang di peti mayat.” Ucap kepala petugas.

Sungguh perkataan yang mengejutkan semua orang di ruangan itu, wanita itu terus menangis dan terduduk lemas. Wajahnya memancarkan kehilangan, kepedihan, ketakutan dan kekecewaan. Kami beranjak dari ruangan dan menggiring wanita itu menuju gerbong kereta, orang-orang di stasiun berbisik dan memperbincangkan kejadian ini, seakan mereka ikut merasakan kepedihan wanita itu. Setibanya di sana, ia menghampiri kemudian memeluk kedua peti mayat itu. Ia menjerit mengabarkan kehilangan yang tak bisa dijabarkan oleh kata-kata, sebuah kehilangan hanya bisa diukur oleh perasaan dan contoh yang serupa.

“Suaminya loncat dari gedung dengan membawa anaknya, beberapa hari yang lalu.” Bisik kepala petugas.

Aku masih menyaksikan wanita itu menangis, namun lambat laun suaranya tangisnya berubah menjadi sebuah tawa. Dan ia terus tertawa membuat suasana semakin tegang dan aneh. Aku merasakan gelap, lebih gelap dari malam.

Read more...

Mawar Dalam Jeruji


“Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Jadi kamu jangan berpikir hidupmu tak berarti. Yang kamu harus lakukan adalah sabar dan bersyukur, itu saja.” Ucap Guluh.

Lelaki itu kuyup. Tulang dadanya terlihat akibat kaos putih yang dikenakan basah air sungai, nafasnya masih terengah-terengah seiring jakun yang turun naik. Badan kurusnya sungguh lincah berenang di arus yang deras menarik tubuhku terbawa hanyut. Sementara di tepi sungai ini aku duduk menelungkup memandang arus sungai yang membawa berbagai macam sampah.

“Kau tidak mengerti Guluh.” Kataku pelan.

Guluh memandang mataku, seakan ingin membongkar rahasia yang ada dalam hatiku. Rahasia yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Kemudian ia duduk di sampigku namun matanya memandang jauh ke sebrang sungai, perbukitan yang hijau.

“Untuk apa kau bunuh diri? Tak ada yang selesai dengan cara itu.” Tanyanya.

“Percuma aku hidup jika hidupku bukan untuk diriku sendiri. Aku ingin tenang!”

Entah apa yang merasuki pikiranku sehingga melompat ke sungai berarus deras. Yang ku tahu air mata terasa asin, meleleh di wajah. Guluh mengusap kepalaku dan merebahkan di pundaknya. Hatiku terasa nyaman jika berdekatan dengannya, ia selalu ada ketika hatiku rapuh. Mungkinkah ia malaikat yang diciptakan tuhan untukku? Entahlah, yang kurasakan saat ini benar-benar kacau.

Aku anak kedua dari tujuh bersaudara, keluargaku terpuruk ketika ayah meninggal tiba-tiba akibat serangan jantung yang dideritanya. Sejak itu, kakak laki-lakiku berubah menjadi orang yang bengis. Harta warisan ayahku tak disisakan untuk keluargaku, mungkin ia terhasut oleh istrinya yang biasa hidup mewah. Aku tak pernah menduganya. Akan tetapi ibu selalu membelanya dan tak sedikit pun cela yang ibu katakan, semua baik di matanya. Sementara adik-adiku masih terlalu muda untuk mengerti hal itu, mereka masih butuh pendidikan, kebutuhan moral dan juga materi.

“Sebaiknya kita pulang!” Ajak Guluh.

Aku terperanjat, tak ada sedikit pun keinginan untuk pulang ke rumah saat ini. Aku telah benar-benar membenci ibu. Semua pengorbanan yang aku lakukan tak pernah berarti bagi dia, segalanya kurang dan salah. Aku bekerja siang dan malam hanya untuk keluargaku agar secara ekonomi tak kekurangan, adik-adikku bisa sekolah dan bermanja-manja di rumah. Sementara aku membunuh keinginan sendiri hanya untuk keluarga. Tak ada yang berarti? Mungkinkah aku bukan anak ibuku? Ah, pikiran itu telah merasuki setiap hari ketika rasa benci semakin tumbuh.

“Tenanglah! Aku akan bicara kepada ibumu tentang hubungan kita.”

Mataku memandang mata Guluh. Rambut panjangnya terkibas angin yang berhembus kencang, semakin terlihat bahwa ia adalah lelaki yang tangguh. Akan tetapi keinginan untuk hidup bersama dengannya belum bisa terlaksana, ibuku melarang aku menikah. Seribu alasan dilontarkan olehnya padaku, dari ucapnnya sangat nyata bahwa aku adalah tulang punggung keluarga. Aku sudah tidak muda lagi, usia dua puluh delapan tahun bagi perempuan sudah seharusnya menikah, teman-teman semasa kuliah sudah menikah dan memiiki anak yang lucu-lucu. Sementara aku hanya bekerja dan meratapi kehidupanku. Di sini aku berontak, aku tak ingin cintaku pun dikorbankan hanya untuk keluarga.

“Mengapa kau diam?” Tanya Guluh.

“Tinggalkan aku Guluh, tak pantas aku memilikimu. Kau baik dan bertanggung jawab, tapi aku sedang kacau.”

Usai berkata aku pergi meninggalkan Guluh yang terheran mendengar ucapanku, sementara air mata terus membanjiri wajah seiring angin yang berhembus menerpa tubuh yang kuyup. Apakah keinginan untuk bunuh diri akan datang lagi? Tak ada yang aku bisa lakukan sekarang hanya berharap semua kembali seperti dahulu. Langkahku semakin menjauh, hatiku kosong.

Read more...

Wajah Dalam Cermin


Tak sekejap yang kubayangkan tiba-tiba aku ambruk. Terbatuk-batuk dan menangis, aku menutup wajahku dengan tangan yang terluka kemudian kusebut berulang kali nama asliku. Bagiku nama asli tak memiliki nada khusus, akan tetapi ketika kusebutkan ada rasa lembut, tajam dan pahit bagai pahitnya ujung mentimun. Dalam lubuk hati. Aku ulang kembali nama itu, aku memekik dan berteriak. Aku tengah mengalami dampak buruk dalam seluruh kehidupanku, sungguh benar-benar aku merasakan kepedihan dan terus saja menangis dalam keadaan terkelungkup sementara kaca-kaca berserakan dari pecahan cermin.

Aku pikir, menangis akan mengurangi sebuah penyesalan atau kekecewaan dan aku akan merasa baikan dalam beberapa menit, jam, hari, bulan, tahun atau bahkan mungkin dalam beberapa abad. Aku hanya menduganya. Aku sudah tak peduli pada waktu, sebab waktu telah menikam harga diriku dalam hitungan usia. Bagaimana mungkin dalam usia tujuh belas tahun aku merasakan perbedaan pada sifat, kelakuan dan kebiasaan pada diriku? Lebih tepatnya aku memiliki penyimpangan prilaku. Keadaan yang kurasakan ini berada dalam luar pemahaman manusia yang biasa-biasa saja, aku pun tak tahu jika aku memiliki keadaan yang ada di luar dari keadaan fisik.

Aku bangkit, ketika kugerakan tubuhku terasa linu. Kemudian berjalan menuju cermin, kugosokkan kedua tanganku, benar-benar wajah yang mengerikan! Darah melumuri seluruh bagian mukaku, darah dari tangan yang terluka. Aku mulai menarik-narik mata dan kedua sudut mulutku, kugembungkan pipiku, kubelai-belai rambutku yang panjang dan aku mulai menikmati wajahku di depan cermin. Wajah ini sangat berbeda dari wajah-wajah yang telah aku ciptakan di cermin-cermin sebelumnya, cermin yang telah aku pecahkan dengan tinju tangan-tanganku. Kau tahu? Aku mampu menciptakan berbagai macam mimik di wajahku; lucu maupun menakutkan. Aku sangat mengetahui ekspresi mereka, yang mampu membuatku tertawa, menangis dan membenci. Mereka semua wajahku. Tidakkah terpikirkan bahwa substansi dari ekpresi-ekpresi wajah merupakan respons dari rangsangan yang tak jelas yang tercipta karena adanya keragu-raguan? Semua itu cenderung membawa manusia ke dalam kekecewaan, lebih mengerikan lagi kegilaan. Namun aku terpaksa menampilkan mimik-mimik ini, hanya karena aku tak ingin mendengar nama asliku dipanggil oleh setiap manusia. Nama yang sungguh menyakitkan jika terdengar, karena aku merasa nama itu bukan bagian dari pikiran dan perasaanku.

Sekali lagi, kutatap mimik wajahku sebelum aku memutuskan untuk mengubahnya dengan wajah asliku, wajah yang sangat kudambakan. Aku berjalan menuju wastafel dan kubasuh seluruh darah yang menempel di seluruh bagian wajahku. Selanjutnya kukeringkan darah yang melekat di kedua tangan lalu kubalut luka, aku seperti tengah menemukan sebuah harapan ketika melakukan itu semua. Setelah itu, aku menghadap ke depan cermin. Ku buka kotak riasku dan mulai ku kenakan bedak, lipstik, blush on, eye shadow dan alat rias wajah lainnya. Aku menemukan diriku sendiri pada wajah yang terhias ini, wajah yang cantik yang didambakan oleh setiap lelaki. Dan ketika aku memakainya di luar sana seakan seluruh kebutuhan hidupku telah terpenuhi. Aku sangat bahagia. Namun, ditengah kebahagianku tiba-tiba terdengar suara memanggil, suaranya kasar dan berisikan perintah. Aku muak mendengar suara itu, kepalaku mendidih, dadaku panas dan hatiku bergejolak. Tanganku mengepal, gigi gemeratak, nafas memburu. Ku tinju cermin yang menampilkan wajah kebanggaanku, berulang kali. Hingga akhirnya cermin hancur berserak di lantai, darah mengalir dari tanganku namun suara itu terus saja memanggil “Yulianto…. Yulianto.. cepat kau keluar dari kamar, temanmu menunggu untuk latihan karate. Jadilah laki-laki kuat dan pemberani!”

Read more...

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP