Cerita Inspiratif

>> 17 Apr 2014



Air Mata Terakhir
Oleh Nana Sastrawan

AKU tidak pernah bermaksud untuk menggugurkan kandungan, tidak pernah sama sekali. Sebab kata orang, rasanya sangat sakit, lebih menyakitkan dari melahirkan. Namun, jika kuingat wajahnya, hatiku koyak-moyak. Bagaimana mungkin aku dapat hidup dengan seorang anak yang tidak memiliki seorang ayah. Mereka yang mengenalku akan menjuluki anakku sebagai anak haram, anak terkutuk. Akhirnya, aku memutuskan untuk meminum sebotol bir, seperti orang kehausan, satu botol ditenggak habis. Lalu, aku mabuk.
            Aku tidak dapat menerima kehadiran tangis bayi di tempat tidurku, rasanya jika mendengar tangis bayi, masa lalu yang memedihkan hidupku semakin menggerogoti hati, semakin nyeri, semakin tidak dapat aku memutuskan untuk melahirkan. Cukup sudah perjalanan masa remajaku, kehormatan seorang wanita yang harus dijaga baik-baik kini hanya akan menjadi impian semu, atau aku harus mengakhiri hidupku?
            Ya, bunuh diri. Seperti yang aku dengar dari teman-teman se-profesi, tentang pemberitaan wanita-wanita putus asa dan memilih jalan kematian sebagai solusinya. Apakah kematian dapat menghilangkan rasa sakit? Aku masih tercenung memikirkannya, sebab sejak kecil, aku tidak pernah dikenalkan dengan sebuah kematian, ayahku selalu mengenalkanku pada kehidupan keras, banting tulang, mati-matian hanya untuk hidup.
            Setelah lulus sekolah, aku memang merantau ke Jakarta, mencari penghidupan sebab di kampung tidak dapat menghasilkan apa-apa, hanya bisa bertahan hidup, tidak bisa meningkatkan hidup. Kata orang-orang yang sudah merantau di kota, uang sangatlah mudah didapat, bekerja menggosok WC saja dapat menghasilkan uang, pulang dari kota dapat membeli sawah, membangun rumah dan menikmati masa tua.
            Di Jakarta, aku bekerja sebagai seorang tukang cuci di rumah seorang Direktur perusahaan, dia berkebangsaan Jepang. Aku diberi kamar di belakang rumahnya, dan sebagai kerja tambahan, aku membersihkan seluruh ruangan rumah; menyapu, mengepel, mencuci peralatan dapur, dan belajar memasak, masakan khas Jepang kepada koki di rumah besar itu. Sungguh pekerjaan yang memang biasa dilakukan oleh wanita-wanita kampung diusia remaja sepertiku.
            Seperti wanita kebanyakan diusia remaja, tubuhku sangat padat, dan cantik. Membuat mata laki-laki melirik jika aku keluar dari rumah itu untuk sekadar membeli bakso, dan layaknya seorang remaja yang sedang mekar, aku juga senang jika para laki-laki melirikku, bahkan menggodaku. Entahlah perasaan apa namanya, tetapi jantung ini selalu berdebar-debar jika ada seorang laki-laki mendekatiku. Darahku seolah mendidih sehingga seluruh tubuhku terasa hangat, mungkin mataku akan terlihat berbinar-binar, seperti yang dideskripsikan oleh para penulis.
            Cinta? Mungkin itu kata yang tepat. Aku merasakan cinta, rasa yang memiliki kasih dan sayang, ingin diperhatikan, dimanja dan dibanggakan. Aku juga tidak bisa menghentikan perasaan itu, seolah cinta tak pernah memiliki ruang, ia bebas berada dimana saja, bahkan bebas kemana saja. Dan aku semakin terhayut dengan perasaan itu.
            Tentunya, cinta yang seperti itu tidak akan pernah bekerja tanpa ada pasangannya. Teman-teman se-profesiku di kawasan itu telah memiliki pasangan, berkasih-kasih di malam minggu dan terkadang jalan-jalan di taman, sambil bersenda-gurau. Aku juga ingin seperti itu, sangat ingin.
            Suatu hari Wati (bukan nama sebenarnya) koki rumah dimana aku bekerja akan pergi mengunjungi adik laki-lakinya yang bekerja di sebuah toko alat-alat tulis di daerah Jakarta Selatan, tidak begitu jauh dari rumah tempat aku bekerja yang hanya berjarak tiga ribu rupiah menggunakan Bajaj. Dan kebetulan, hari ini adalah hari minggu, semua tuan-tuan dari Jepang sedang pergi bermain golf, sehingga rumah kosong.
            “En, mau ikut tidak?” tanyanya.
            “Mmm… lama tidak?” tanyaku balik.
            “Tidak…”
            Setelah mendengar jawaban yang disetujui oleh hatiku, maka aku memutuskan untuk ikut Wati keluar rumah. Aku segera mandi, memakai pakaian yang pantas, dan tentu berdandan agar terlihat tambah menawan, maklum aku dan Wati jarang sekali pergi keluar rumah menggunakan kendaraan, biasanya aku hanya pergi di sekitar komplek saja.
            Wati tertegun—matanya menatap tajam ke arahku, rupanya ia terpukau dengan penampilanku, yang menurutku sangat sederhana. Mungkin aku seorang remaja sehingga selalu terlihat cantik memakai apa saja. Apalagi, rambutku hitam, terurai panjang. Aku digoda oleh Wati, hatiku semakin berbunga-bunga. Lalu, kami pergi.
            Sesampainya di tempat tujuan, Wati memperkenalkanku kepada Yadi, adik kandungnya yang tengah menjaga toko, tanganku gemetar ketika bersalaman dengannya. Yadi seorang sosok lelaki impian, gagah dan tentu saja tampan. Kami saling pandang—lalu beberapa menit kemudian kami tersipu malu.
            “Hey Yad! Boleh nih dikenalin!”
            Terdengar suara dari toko sebelah, toko buku. Aku menoleh ke arah suara. Seorang lelaki tinggi, rambut keriting, gondrong, berdiri menyandarkan tubuhnya ke pintu toko. Dia mengerlingkan matanya kepadaku, lalu menghampiri dan mengulurkan tangan. Aku sejenak terdiam, hatiku merasa tidak nyaman ada lelaki genit ini, tetapi, Wati menyenggol pundakku, hingga aku membalas uluran tangannya.
            “Yadi.”
            Aku terkejut—namanya ternyata sama dengan adik Wati, hanya sangat berbeda. Jika adik Wati adalah lelaki idaman, sedangkan dia? Hanya Tuhan yang tahu. Namun, mau tidak mau, kami mengobrol juga dengannya hingga aku tahu bahwa dia ternyata berasal dari daerah yang sama hanya berbeda kampung, persisnya tetangga kampung.
            Setelah perkenalan itu, dia selalu datang mengunjungi rumah pada malam minggu tempat aku bekerja. Awalnya aku tidak mau menemuinya, aku memilih untuk berdiam diri di dalam kamar, akan tetapi Wati selalu membujukku untuk menemuinya, sebab dia juga sudah malas menemani Yadi jika aku tidak mau keluar kamar. Aku memang tidak pernah tertarik dengan Yadi, aku lebih tertarik kepada Yadi, adik Wati. Lama-lama aku menemuinya juga, dengan maksud secara halus menolaknya.
            Sekali, duakali, dan ketiga kalinya aku merasa nyaman mengobrol dengan Yadi, ternyata dia orangnya pandai berbicara, membuat aku terbuai dengan setiap kata-katanya. Tetapi, aku tetap tidak menyukainya. Sampai pada suatu hari, ada kiriman surat yang ditujukan kepadaku, surat dengan amplop wangi dan berwarna cerah.
            Perlahan aku buka, tanganku gemetar, jantungku berdebar-debar. Aku membacanya, kata demi kata. Sebuah surat yang memang ditujukan dengan maksud tertentu sehingga kata-kata yang tertuliskan sangat indah. Aku semakin terbuai, seluruh indera tersedot oleh kata-kata itu, sangat manis dan romantis. Aku sungguh berubah seratus delapan puluh derajat setelah membaca surat itu, surat dari Yadi yang berisikan kata-kata indah dengan maksud ingin mencintaiku seumur hidup. Sungguh, tak pernah kusangka jika dia dapat menulis kata-kata seindah itu. Sumpah! Baru kali ini aku membaca kalimat-kalimat yang menakjubkan, seperti bait-bait puisi. Dan di hari-hari berikutnya, aku menerima cinta Yadi sampai kami menikah.
            Bunga-bunga cinta tumbuh dengan sendirinya, aku mengandung seorang bayi, usianya sudah enam bulan. Bayang-bayang masa depan telah dipelupuk mata, aku akan menjadi seorang ibu, dan membina rumah tangga bersama Yadi. Sampai suatu hari, aku dikejutkan oleh seorang tamu perempuan, perutnya hamil seperti diriku. Ia datang dengan wajah muram, rambutnya kusut lalu bersujud ke kakiku dan menangis tersedu-sedu.
            “Maafkan aku, sungguh aku sangat menyesal!” Ia terisak-isak.
            “Ada apa ini?” tanyaku.
            “Aku sangat tidak berguna, sangat tidak bisa berguna hingga aku membiarkan diriku disakiti oleh seorang laki-laki.”
            “Maksudmu?”
            “Aku sedang hamil, dan anak ini adalah anak suamimu.”
            Seperti tersambar petir disiang bolong, aku terperangah—telingaku berdengung mendengar perkataannya. Tidak bisa dipercaya. Ya, aku tidak percaya, apakah mungkin suamiku berbuat serong? Aku duduk, seluruh tubuhku terasa lemas.
            “Apa aku tidak salah dengar?”
            “Tidak… sungguh aku minta maaf, kami sudah menikah siri tujuh bulan yang lalu.”
            Saat perempuan itu menangis tersedu-sedu dan aku yang sudah tak karuan mendengar segala ceritanya, Yadi datang. Dia tercengang melihat ada dua wanita yang dikenalnya, matanya mengisyaratkan bahwa dia bersalah. Aku segera membrondongnya dengan berbagai macam pertanyaan, sampai akhirnya dia mengakui bahwa perempuan itu memang istrinya. Aku sangat marah, merasa dibohongi oleh orang yang sangat kupercayai, perasaan benci ketika awal bertemu muncul kembali, bahkan sekarang sangat membencinya sebab hatiku benar-benar hancur.
            “Pilih dia atau aku!” bentakku.
            Yadi diam saja, dia tampak kebingungan. Sementara, perempuan itu hanya menangis, rupanya dia sudah pasrah. Melihatnya hatiku tiba-tiba luluh, ada rasa kasihan terhadap dirinya. Apalagi perutnya sudah jelas terlihat membesar.
            “Baiklah… kalau tak kamu jawab, biarkan aku yang mundur.”
             Yadi dan perempuan itu terkejut. “Aku akan memilihmu,” kata Yadi.
            “Tidak, aku sudah sangat sakit hati. Aku yang tidak memilihmu.”
            Hatiku sudah terlanjur kecewa, seorang lelaki yang sudah sekali berbohong, bagiku akan tetap berbohong selamanya. Aku memilih untuk hidup sendiri, untuk tidak ingin lagi mengenal laki-laki, aku sudah sangat benci terhadap laki-laki. Mungkin bayi yang kukandung ini juga laki-laki, aku tidak ingin bayi ini lahir tanpa seorang ayah.
Hari-hari kulalui seorang diri, aku memendam benci, kalut dan penuh dengan kekecewaan, buah dari perantauanku dan kecintaanku terhadap laki-laki. Namun, usahaku untuk menggugurkan kandungan tidak berhasil, perutku semakin membesar. Orang tuaku selalu menyalahkan aku karena tindakanku yang terlalu ceroboh memilih seorang suami. Aku melahirkan dalam keadaan stress, kacau dan dendam. Dan orang-orang terdekatku tidak pernah ada, tidak pernah ada.
            Sekarang, aku merasa bersalah terhadap anakku, perbuatan seorang ibu yang ingin menggugurkan kandungannya sendiri. Sungguh, perbuatan yang tidak harus ditiru oleh siapapun. Aku memandang wajah anakku, tersenyum bahagia memakai toga. Seolah memberikan berita bahwa hidup harus terus berjalan, harus selalu diperjuangankan untuk mewujudkan impian. Anakku telah menjadi seorang sarjana. Sungguh, aku sangat merasa berdosa, bagaimana mungkin dulu aku akan menyia-nyiakan anak yang kini menjadi kebanggaanku. Air mataku keluar semakin deras di depan foto yang masih tersenyum menatapku. Berharap air mata ini menetes untuk terakhir kali.

Agustus, 2013.

Read more...

Novel Kerajaan Hati

>> 4 Jan 2014

Mengapa harus dipertemukan jika cinta tak bisa diungkapkan? Bukankah cinta seharusnya memberikan kebahagiaan? Cinta yang terpendam akan sangat menyiksa, membuat luka. Tak ada yang dapat menyembuhkan luka itu selain cinta itu terucapkan dan diterima dengan tulus. Ini adalah kisah percintaan dua orang remaja yang sebenarnya saling mencintai, namun mereka terlalu takut untuk mengungkapnya. Padahal, cinta adalah sebuah kerajaan hati yang memiliki singgasana paling indah yaitu kasih dan sayang.






Read more...

Cinta Lama Bersemi Kembali

>> 14 Okt 2013

Foto diambil Ketika Nana Sastrawan Mengisi Seminar Menulis di Universitas Pamulang
Seorang wanita menghampiriku, wajahnya sungguh cantik, memakai kaos dan celana jeans. Langkahnya sangat menggoda, senyum manis dan rambut panjang terkibas angin, siapa dia? Aku baru saja melihatnya, tetapi tatapannya seperti telah mengenalku.
            “Hai! Kamu Ari?” tanyanya.
            “Iya.Tapi…”
            “Aku Noura, teman sekolahmu dulu!” dia memotong ucapanku, wajahnya tiba-tiba berseri.
            Aku terkejut—Noura adalah mantan kekasihku ketika aku masih sekolah, dia sungguh berbeda. Lebih cantik, fashionable dan seksi. Dulu, dia tidak seperti ini, sangat terkesan posesif, dan pemurung. Itulah mengapa aku memutuskannya.
            “Nou… Noura? Wow…. It’s true? Aku belum percaya ini!” seruku.
            “It’s me… Noura, si Perempuan menyebalkan!” kemudian dia tertawa.
            Aku tersipu malu—kata-kata itu memang sering aku ucapkan kepadanya ketika berpacaran dulu. Memang sewajarnya aku mengatakan itu, sebab Noura yang dulu adalah seorang wanita yang selalu mengeluh, tentang dirinya, kesehatannya, keluarganya dan mungkin pelajarannya, atau guru-gurunya.
            “Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan padaku,” katanya lalu duduk di depanku.
            Aku tertegun. “Maksudmu?” tanyaku.
            “Jika saja kamu tidak memutuskanku, mungkin aku tak akan terluka, dan mungkin juga aku tidak mungkin bisa mengubah diriku,”
            “Mmm…maafkan aku Noura,”
            “Tidak! Jangan kamu meminta maaf! Sebagai wanita, aku memang harus lebih periang, percaya diri, dan tentu saja pintar, aku sudah menyadari itu semua. Dan hasilnya, aku menjadi seorang wanita karir, tentu saja cinta dari seorang pria idaman.”
            Kuminum kopi yang telah tersedia di atas meja. Mataku mencoba mengalihkan pandangan ke sekitar kafe ini, masih terlalu sepi, padahal kota besar. Walaupun suasana masih pagi, tetapi kafe adalah tempat makan pagi yang paling diminati oleh orang-orang kota.
            “Apa kamu sudah menikah?” tanyanya.
            “Belum, aku sedang mencari yang cocok,” jawabku.
            “Wah… kebetulan sekali!”
            “Kebetulan?” tanyaku, sedangkan hatiku berdebar-debar. Apa mungkin Noura masih mencintaiku? Dan untuk saat ini, aku memang terpesona padanya.
            “Iya… kebetulan, aku sedang breakfast dengan calon suamiku, itu dia!” dia menunjuk ke salah satu pengunjung kafe.
            Kemudian, Noura mengajakku berkenalan dengannya, hatiku terbakar api cemburu—entah mengapa ada perasaan gelisah ketika kami mengobrol. Lalu dia mengajak aku untuk makan pagi bersama, disaat mengobrol, dalam hatiku berkata: aku akan mendapatkan kembali Noura, harus! Titik.

Read more...

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP