Cerpen Renungan

>> 17 Sep 2014

Selingkuh

            Jam lima pagi, seorang suami berpamitan kepada istrinya, dia akan berangkat ke kantor. Di kota besar, tidak bisa berangkat kerja setelah matahari terbit, sebab akan terjebak macet, dan tentu terlambat masuk kantor, resikonya adalah potong gaji atau dipecat. Si suami mengeluarkan motornya, dari dalam rumah petak, rumah yang baru dikontraknya setelah pesta pernikahan dengan si istri.
            “Mah, Papah berangkat ya!”
            Si istri bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dengan manja menghampiri si suami, wajahnya cemberut. Mungkin semalam belum merasa puas, sehingga tak rela ditinggalkan oleh si suami.
            “Pulangnya jangan malam-malam ya…,” kata si istri sambil tersenyum manis.
            Si suami mengangguk, lalu mengulurkan tangan. Si istri mencium tangan si suami, dalam hati si suami, sebenarnya tidak rela meninggalkan istri tercintanya. Dia juga masih merasakan keindahan semalam bersama si istri, tetapi, mencari nafkah juga adalah hal yang paling penting untuk dirinya. Dengan langkah gontai, si suami menghampiri sepeda motor, naik, dan tancap gas. Si istri melambaikan tangan, matanya masih terlihat mengantuk.
            Di tengah jalan, si suami masih saja membayangkan kehebatan istrinya ketika memadu kasih semalam. Dia hampir saja kewalahan bercumbu dengan istrinya itu, mungkin ini yang sering dikatakan oleh teman-temannya, jika laki-laki tidak menikah maka akan menyesal seumur hidup.Ternyata memang benar, menikah adalah sebuah kenikmatan hidup yang paling sempurna, itulah yang dirasakan olehnya.
            Sepeda motor terus melaju menembus kabut, menembus cahaya matahari yang mulai terbit, dan jalan mulai ramai oleh berbagai macam kendaraan, hingga tidak bisa dihindari lagi, dia masuk kedalam kepadatan kendaraan. Sesungguhnya, matanya masih mengantuk, tubuhnya masih lemas dan perutnya juga lapar, sebab belum makan pagi. Pikirnya, dia bisa makan pagi di warung kaki lima dekat kantornya.
            Wajah istrinya selalu terbayang dalam pikirannya. Dulu, ketika dia berpacaran, dia mati-matian untuk mendapatkan istrinya itu, hingga harus berkorban habis-habisan, sebab istrinya adalah perempuan yang cantik, banyak yang suka dan mendekati, dari laki-laki mapan sampai lelaki hidung belang.
            Dan ketika menikah, dia juga harus menghabiskan seluruh tabungannya untuk mengadakan pesta, itu semua permintaan dari keluarga istrinya. Karena cinta yang sangat besar dalam dirinya, dia rela menghabiskan apa saja agar bisa menikahi istrinya. Sampai setelah menikah, dia hanya bisa mengontrak rumah petak, dengan uang sewa lima ratus ribu rupiah sebulan.
            “Lebih baik, aku putar balik!” gumamnya.
            Segera saja dia memutar balik sepeda motornya, dia masih ingin bercumbu dengan istrinya, dia sangat mencintai istrinya, biarlah pekerjaan di kantor bisa diselesaikan esok hari, dan dia juga bisa memberikan alasan bahwa hari ini sakit, sehingga mudah untuk mendapat ijin. Sepeda motor segera di gas, sementara itu matahari mulai meninggi.
            Jam tujuh pagi tepat, dia sudah berada di depan rumah kontrakannya. Pintu tertutup rapat, istrinya pasti masih tidur, dia akan mengejutkannya dengan ciuman di bibirnya, kemudian dia akan mencumbunya. Perlahan pintu dibuka, ruang depan masih berantakan, dia melangkah ke ruang tengah, di atas kasur yang tergeletak di lantai, istrinya tengah mendesah begitu nikmat, bergairah, ditindih oleh seorang lelaki. Si suami sangat mengenal siapa laki-laki itu, dia adalah mantan kekasih istrinya.

*Kisah ini terinspirasi dari berita-berita perselingkuhan di koran.
  Mungkin benar, bahwa definisi cinta sulit terjawab, meski sudah dalam pernikahan

Read more...

Menziarahi Kitab Hujan

>> 30 Apr 2014



   -kepada Nana Sastrawan

Puisi adalah upaya kita untuk menziarahi huruf; menisani setiap kata dan memakukannya ke dalam tanah makna. Pada kata kita letakkan perasaan, pada kalimat kita susun ratap, harap, kerjap, dentum, deru, kelu, pilu, sembilu. Kalimat membentuk sekuel; mencipta mozaik, membangun bab, meninggikan pasal, mengokohkan kitab. Puisi merupakan kenyataan yang tumpang tindih. Ia menjadi. Dan puisi yang menjadi adalah sebuah dunia, begitu Chairil Anwar bertutur. Puisi yang menjadi memiliki syarat dan ciri-ciri yang tidak mudah. Seperti syarat dan ciri dunia yang selalu bersifat kompleks dan atau majemuk.

Puisi yang menjadi dunia itu saya temukan di antara beberapa tumpukan kitab. Kitab Hujan. Puisi yang lahir dari tangan dingin Nana Sastrawan ini telah membuktikan betapa puisi bisa menjadi suatu dunia; yang benar ada, nyata, konkrit, terbaca dan bukan rekayasa. Puisi itu mulanya mengusik kepekaan saya. Kemudian menjadi sangat mengganggu hari-hari saya. Alhasil, saya tertarik untuk mengupasnya. Sebab, puisi Kitab Hujan itu, jika saya lihat secara selintas, banyak yang tidak bisa dipahami hanya dengan satu kali duduk. Ia membutuhkan perenungan yang panjang. Agaknya, satu tahun, sejak saya kenal Nana, adalah waktu yang cukup untuk menguak rahasia di balik belantara Kitab Hujan yang rimbun itu.

Dilihat dari struktur kata yang dibangun dalam Kitab Hujan, diksi dan metafora yang terkandung di dalamnya sangatlah kaya. Alegori yang mencuat dengan indah sangat tak biasa dipakai oleh kebanyakan penyair. Di sanalah letak keunikan Kitab Hujan. Kita akan disuguhi dengan berbagai kemungkinan; multi-tafsir, pengembangan dari satu kata ke kata yang lain, kata-kata yang kemungkinan mengandung anak makna. Kesemuanya membaur bersama renjana kalimat yang bukan klise.

Titik mengagumkan dari Kitab Hujan tidak hanya terdapat pada struktur. Pola pengungkapan dan pola penjabaran juga sangat memesona. Kita akan menemukan makna yang selalu melahirkan persepsi yang berbeda di tiap pembacaan. Satu kali pembacaan meninggalkan kesan. Dua kali pembacaan menghadirkan ironi. Tiga kali pembacaan dan seterusnya menyuguhkan keunikan makna dan ritme gagasan yang mendayu-dayu, berliku-liku. Saya akan mengajak anda menziarahi Kitab Hujan itu. Akan kita temui bersama-sama, apa yang barangkali pernah musykil di benak kita, tentang berbagai hal yang kerap ajaib namun tak tersedari.

Kitab Hujan dibuka dengan ungkapan puitik yang prosais. Dengan sedikit berkerut dahi kita akan memulai menanyakan beberapa hal:

Setiap pagi, aku terbangun dengan buku yang baru saja dipinjam dari toko sepatu, tapi bukan di deretan sepatu. aku menemukannya di meja kasir yang penjaganya seorang wanita. kita berbincang tentang apa saja, tapi bukan sepatu. kita berbincang tentang canda dan diam. setelah itu kau mulai nakal dengan meminjam tubuhku dan memungut hidup dalam kepalaku lalu kita pun sepakat menukar buku.
buku yang hanya tiga bab

Buku, toko sepatu, dan wanita. Tiga kata kunci ini perlu kita pegang. Kita gambarkan bahwa aku-penutur adalah ia yang punya cerita. Cerita yang penting ia rekam untuk kemudian ia ungkapkan kepada orang lain. Aku-penutur terbangun dengan buku. Terbangun, bisa jadi adalah terlahir dan lantas tumbuh menjadi dewasa. Penyair ini mengibaratkan terlahir dengan begitu apik. Terbangun dari tidur tidak semata mencirikan kelahiran seseorang. Lebih dari itu, kenangan telah mewadahi dirinya dalam satu bejana yang ia namakan hidup. Hidup itu membawanya ke suatu kisah saat ia meminjam buku di toko sepatu yang dijaga oleh seorang wanita. Buku. Kata ini mencapai maknanya yang paling tak dinyana. Buku memberikan kita pengertian mengenai begitu banyak catatan tentang hidup; kesedihan tercatat, kepedihan tertulis, kepiluan tergambar. Buku pada puisi itu, bisa kita bawa kepada makna: bahwa buku adalah potret diri aku-penutur yang sebenarnya adalah rahasia.Toko sepatu barangkali tidak begitu saja bisa kita maknai secara denotatif. Tersebab nanti, di akhir puisi ini, akan ada loncatan-loncatan yang tak terduga mengenai toko sepatu. Kita akan melihatnya nanti.

Pada lanjutan puisi: … kita berbincang tentang apa saja, tapi bukan sepatu/ kita berbincang tentang canda dan diam/ setelah itu kau mulai nakal dengan meminjam tubuhku dan memungut hidup dalam kepalaku lalu kita pun sepakat menukar buku. Kita menemukan adanya peralihan dari yang semula aku-penutur bercerita ke aku-penutur bercakap dan bermaksud berkata-kata hanya pada ia, sang wanita. Maka, kata yang aku-penutur gunakan beralih menjadi kita. Begitulah, di sinilah letak kepiawaian penyair ini. Ia sangat jeli meletakkan kapan subjek menjadi objek dan kapan objek berubah subjek. 

Selain bahwa peralihan itu menunjukkan adanya kedekatan asmara antara aku-penutur dengan wanita penjaga toko sepatu, sebenarnya masih ada alternatif lain untuk membangun makna dari penggalan puisi itu. Aku-penutur bisa jadi memaksudkan bahwa yang ia gumami dari awal memanglah orang yang satu. Jadi, tidak pernah terjadi peralihan orang kedua. Tapi, kita akan membawanya kepada makna pertama. Meskipun bisa dipastikan bahwa pembaca memiliki berbagai tafsir mengenai hal tersebut. Anggaplah apa yang saya utarakan di sini adalah sebagian dari tafsir yang sebenarnya belum tuntas dan tidak bersifat konklusif.

Kita melihat adanya kenangan yang mulai ditorehkan di dalam buku (baca: potret diri). Aku-penutur menyusun kejadian-kejadian dalam dirinya untuk kemudian, pada pungkasnya, ia dan si wanita bersedia saling menukar buku; saling menukar diri dan pinjam-meminjam kebahagiaan, lalu kesedihan yang bakal terlukis pada lanjutan puisi itu.

Puisi itu dilanjutkan dengan muatan mengenai tiga bab:

bab pertama 

cerita tentang wajah yang muram
hitam, legam
guratan luka mendendam

dari wajah itu sering terdengar gaung dan penuh orangorang hitam mencangkulcangkul wajah, namun tetap saja hitam, meskipun sudah sampai dasar mereka terus saja mencangkul

Bab pertama ini mencakup dunia riil. Dunia yang dihadapi oleh manusia. Ada alasan kenapa manusia bisa saja memiliki cerita tentang wajah yang muram. Bahkan untuk ukuran orang awam, sampai kalangan intelektual, tak mampu menampik kemungkinan terburuk dari hidup ini; berupa kepedihan dan kesedihan. Hidup, meski dalam suasana bahagia, tak berhasil menyumbat keresahan manusia akan hilangnya nyawa. Lantas, manusia bagai orang yang terus mencangkul meskipun sudah sampai dasar. Artinya, ia terus melakukan kesia-siaan dalam hidupnya. Ia akan berpisah dan meninggalkan apa yang musti ditinggalkan. Juga, ia akan ditinggalkan oleh siapa yang harus meninggalkan. Di sinilah letak keresahan manusia.

Wajah yang muram yang sering terdengar gaung adalah perumpamaan yang purna tentang kematian. Yang mati menyisakan guratan luka mendendam entah pada siapa. Sebab, tiada yang musti didendami kecuali kehidupan yang pantas mati. Kehidupan akan niscaya menemui mati. Tiada hidup jika tanpa mati. Tiada mati jika tiada hidup. Orang-orang hitam yang mencangkul-cangkul wajah ialah perumpamaan tentang siksa yang tak terkatakan, yang senantiasa memberet hati setiap yang menemui kematian. Atau yang ditinggal mati. Wajah adalah lambang diri manusia, ia bisa dikatakan ada tersebab diketahui dengan dan oleh wajah.

Hidup tiada lain adalah untuk menuju kematian.

Dan bab kedua melanjutkan ziarah kita:

bab kedua 

hanya ada sepasang mata
meneteskan airmata
tak terhingga
dan air mata itu bersuara
menjerit bahkan tertawa

air mata itu menjadi gelombang pasang
menggulunggulung, semakin riuh
memporakporandakan sepasang mata
dan pecah
berhamburan air mata
lalu menjadi gelombang
dan gelombang itu saling menyerang

Bab kedua: berkisah tentang orang yang ditinggalkan oleh yang ia cintai. Dan kesedihan tergurat jelas di kedua matanya. Hanya mata yang sanggup berbicara tentang rasa sedih yang tiada hingga: hanya ada sepasang mata/ meneteskan air mata/ tak terhingga. Ketika mulut tak berhasil menemukan kata yang tepat untuk melukiskan kesedihan, maka matalah yang akhirnya bisa menyuarakannya. Mata yang membasah bagai curuk yang deras kian basah dan kian deras.

Kita melihat adanya perasaan yang pecah, moyak dan hancur. Kita dibawa menyusuri goa dengan dinding-dindingnya yang selalu menampakkan kegelapan hingga nun jauh ke dalam. Kita dibuatnya ketakutan, akan gelap, akan tiadanya lentera, akan absennya cahaya. Kematian telah membawa yang mati dan yang ditinggalkan kepada titik hitam yang selalu menakutkan dan meresahkan. Hingga ada yang bersuara dari dalam diri kita; dan air mata itu bersuara/ menjerit bahkan tertawa. Airmata menjerit, bahkan tertawa? Paradoks! Kita menemukan paradoks di sini. Tapi justru di situlah menariknya puisi ini. Bahwa paradoks kadang bisa memunculkan pengertian baru. Airmata, sebagai simbol kesedihan paling akhir. Dan tertawa, sebagi simbol kebahagiaan paling sempurna.

Jika disalah-pahami, maka akan terjadi pertentangan diski. Namun, kita layak menduga, bahwa kadangkala, kesedihan adalah parodi. Kesedihan yang berkelanjutan menjadi semacam kelucuan yang tanpa disengaja. Larut dalam duka yang dalam akhirnya mencapai puncaknya pada arti terdalam dari tawa. Tawa adalah ekspresi tingkat akhir ketika airmata tercurah habis.

Dalam duka, airmata menggulung dengan ganasnya. Puncaknya, airmata menyerang mata dan mata menjadi gelombang, lagi dan lagi. Gelombang dalam gelombang. Tiada akhir, selalu berkutat dan perputar seperti rantai. Yang mata dan yang airmata membahasakan tiap-tiap kepedihan dan kematian. Yang mati menyelam jauh ke dasar airmata itu. Hingga tenggelam dan mati lagi, kesekian kali.

Bab ketiga: di sinilah puncak dari puisi ini.

bab ketiga

hening

Hening! Hanya ada kata ‘hening’ di bab pamungkas. Kata ini amat padat. Ia menyimpan segala yang terekam dalam bab sebelumnya, yang kemudian menjadi semacam klimaks dari puisi ini. Satu kata itu mampu mewakili apa saja tentang kematian, kehilangan, dan airmata. Segala bentuk kepedihan tertampung di dalam kata itu. Sampai pada akhirnya, hanya hening yang adalah mati. Mati adalah keheningan paling hening!

Begitulah, tiga bab dalam buku yang aku-penutur tukar dengan buku wanita penjaga toko sepatu itu, terselesaikan. Narasi mengalir lagi, membikin kelindan dan hentakan kepada kita, pembaca. Penyair ini kembali bercerita:

setiap sore, aku selalu berkunjung ke toko sepatu itu untuk mengembalikan buku. toko itu selalu tutup dan becek. hanya ada sepatu bot tergeletak, lalu ku tatap tajam dan aku menemukan buku yang sama penuh lumpur.

Kita telah menemukan makna toko sepatu pada bait puisi ini. Toko sepatu tidak lain adalah tanah pusara. Dibuktikan dengan selalu tutup dan becek. Pusara adalah ia yang tertutup dan becek akibat airmata. Toko buku yang pernah aku-penutur temui dulu, barangkali sama dengan toko buku yang kini tutup dan becek. Hanya saja, jika mungkin, toko sepatu seharusnya menjual banyak sepatu, di toko sepatu pusara itu, kita hanya mendapati sepatu bot tergeletak. Penyair ini membawa kita kepada makna yang sungguh mengesankan. Sepatu bot yang tergeletak, tidak lain adalah batu yang menisani pusara. Batu yang tak sanggup membenturkan kesedihan dan keresahan. Batu yang tak mampu menampung airmata. Batu yang kian kikis ditimpa hujan tiada henti.

Saat aku-penutur menatap sepatu bot itu, ia mendapati buku yang sama penuh lumpur. Buku yang adalah kenangan. Kenangan itu ikut ternodai, dipenuhi lumpur pusara. Kenangan itu pun, bakal mati dan kejadian serupa akan terulang, terus dan sampai setiap yang pernah buku menjadi toko yang selalu tutup dan becek.

Kita telah menziarahi Kitab Hujan. Kita pun dibuat basah airmata oleh penyair ini. Kurang ajar!

~Dimuat di facebook M.S. Arifin Catatan Edisi 06/VI/28 April 2014~



Read more...

Cerita Inspiratif

>> 17 Apr 2014



Air Mata Terakhir
Oleh Nana Sastrawan

AKU tidak pernah bermaksud untuk menggugurkan kandungan, tidak pernah sama sekali. Sebab kata orang, rasanya sangat sakit, lebih menyakitkan dari melahirkan. Namun, jika kuingat wajahnya, hatiku koyak-moyak. Bagaimana mungkin aku dapat hidup dengan seorang anak yang tidak memiliki seorang ayah. Mereka yang mengenalku akan menjuluki anakku sebagai anak haram, anak terkutuk. Akhirnya, aku memutuskan untuk meminum sebotol bir, seperti orang kehausan, satu botol ditenggak habis. Lalu, aku mabuk.
            Aku tidak dapat menerima kehadiran tangis bayi di tempat tidurku, rasanya jika mendengar tangis bayi, masa lalu yang memedihkan hidupku semakin menggerogoti hati, semakin nyeri, semakin tidak dapat aku memutuskan untuk melahirkan. Cukup sudah perjalanan masa remajaku, kehormatan seorang wanita yang harus dijaga baik-baik kini hanya akan menjadi impian semu, atau aku harus mengakhiri hidupku?
            Ya, bunuh diri. Seperti yang aku dengar dari teman-teman se-profesi, tentang pemberitaan wanita-wanita putus asa dan memilih jalan kematian sebagai solusinya. Apakah kematian dapat menghilangkan rasa sakit? Aku masih tercenung memikirkannya, sebab sejak kecil, aku tidak pernah dikenalkan dengan sebuah kematian, ayahku selalu mengenalkanku pada kehidupan keras, banting tulang, mati-matian hanya untuk hidup.
            Setelah lulus sekolah, aku memang merantau ke Jakarta, mencari penghidupan sebab di kampung tidak dapat menghasilkan apa-apa, hanya bisa bertahan hidup, tidak bisa meningkatkan hidup. Kata orang-orang yang sudah merantau di kota, uang sangatlah mudah didapat, bekerja menggosok WC saja dapat menghasilkan uang, pulang dari kota dapat membeli sawah, membangun rumah dan menikmati masa tua.
            Di Jakarta, aku bekerja sebagai seorang tukang cuci di rumah seorang Direktur perusahaan, dia berkebangsaan Jepang. Aku diberi kamar di belakang rumahnya, dan sebagai kerja tambahan, aku membersihkan seluruh ruangan rumah; menyapu, mengepel, mencuci peralatan dapur, dan belajar memasak, masakan khas Jepang kepada koki di rumah besar itu. Sungguh pekerjaan yang memang biasa dilakukan oleh wanita-wanita kampung diusia remaja sepertiku.
            Seperti wanita kebanyakan diusia remaja, tubuhku sangat padat, dan cantik. Membuat mata laki-laki melirik jika aku keluar dari rumah itu untuk sekadar membeli bakso, dan layaknya seorang remaja yang sedang mekar, aku juga senang jika para laki-laki melirikku, bahkan menggodaku. Entahlah perasaan apa namanya, tetapi jantung ini selalu berdebar-debar jika ada seorang laki-laki mendekatiku. Darahku seolah mendidih sehingga seluruh tubuhku terasa hangat, mungkin mataku akan terlihat berbinar-binar, seperti yang dideskripsikan oleh para penulis.
            Cinta? Mungkin itu kata yang tepat. Aku merasakan cinta, rasa yang memiliki kasih dan sayang, ingin diperhatikan, dimanja dan dibanggakan. Aku juga tidak bisa menghentikan perasaan itu, seolah cinta tak pernah memiliki ruang, ia bebas berada dimana saja, bahkan bebas kemana saja. Dan aku semakin terhayut dengan perasaan itu.
            Tentunya, cinta yang seperti itu tidak akan pernah bekerja tanpa ada pasangannya. Teman-teman se-profesiku di kawasan itu telah memiliki pasangan, berkasih-kasih di malam minggu dan terkadang jalan-jalan di taman, sambil bersenda-gurau. Aku juga ingin seperti itu, sangat ingin.
            Suatu hari Wati (bukan nama sebenarnya) koki rumah dimana aku bekerja akan pergi mengunjungi adik laki-lakinya yang bekerja di sebuah toko alat-alat tulis di daerah Jakarta Selatan, tidak begitu jauh dari rumah tempat aku bekerja yang hanya berjarak tiga ribu rupiah menggunakan Bajaj. Dan kebetulan, hari ini adalah hari minggu, semua tuan-tuan dari Jepang sedang pergi bermain golf, sehingga rumah kosong.
            “En, mau ikut tidak?” tanyanya.
            “Mmm… lama tidak?” tanyaku balik.
            “Tidak…”
            Setelah mendengar jawaban yang disetujui oleh hatiku, maka aku memutuskan untuk ikut Wati keluar rumah. Aku segera mandi, memakai pakaian yang pantas, dan tentu berdandan agar terlihat tambah menawan, maklum aku dan Wati jarang sekali pergi keluar rumah menggunakan kendaraan, biasanya aku hanya pergi di sekitar komplek saja.
            Wati tertegun—matanya menatap tajam ke arahku, rupanya ia terpukau dengan penampilanku, yang menurutku sangat sederhana. Mungkin aku seorang remaja sehingga selalu terlihat cantik memakai apa saja. Apalagi, rambutku hitam, terurai panjang. Aku digoda oleh Wati, hatiku semakin berbunga-bunga. Lalu, kami pergi.
            Sesampainya di tempat tujuan, Wati memperkenalkanku kepada Yadi, adik kandungnya yang tengah menjaga toko, tanganku gemetar ketika bersalaman dengannya. Yadi seorang sosok lelaki impian, gagah dan tentu saja tampan. Kami saling pandang—lalu beberapa menit kemudian kami tersipu malu.
            “Hey Yad! Boleh nih dikenalin!”
            Terdengar suara dari toko sebelah, toko buku. Aku menoleh ke arah suara. Seorang lelaki tinggi, rambut keriting, gondrong, berdiri menyandarkan tubuhnya ke pintu toko. Dia mengerlingkan matanya kepadaku, lalu menghampiri dan mengulurkan tangan. Aku sejenak terdiam, hatiku merasa tidak nyaman ada lelaki genit ini, tetapi, Wati menyenggol pundakku, hingga aku membalas uluran tangannya.
            “Yadi.”
            Aku terkejut—namanya ternyata sama dengan adik Wati, hanya sangat berbeda. Jika adik Wati adalah lelaki idaman, sedangkan dia? Hanya Tuhan yang tahu. Namun, mau tidak mau, kami mengobrol juga dengannya hingga aku tahu bahwa dia ternyata berasal dari daerah yang sama hanya berbeda kampung, persisnya tetangga kampung.
            Setelah perkenalan itu, dia selalu datang mengunjungi rumah pada malam minggu tempat aku bekerja. Awalnya aku tidak mau menemuinya, aku memilih untuk berdiam diri di dalam kamar, akan tetapi Wati selalu membujukku untuk menemuinya, sebab dia juga sudah malas menemani Yadi jika aku tidak mau keluar kamar. Aku memang tidak pernah tertarik dengan Yadi, aku lebih tertarik kepada Yadi, adik Wati. Lama-lama aku menemuinya juga, dengan maksud secara halus menolaknya.
            Sekali, duakali, dan ketiga kalinya aku merasa nyaman mengobrol dengan Yadi, ternyata dia orangnya pandai berbicara, membuat aku terbuai dengan setiap kata-katanya. Tetapi, aku tetap tidak menyukainya. Sampai pada suatu hari, ada kiriman surat yang ditujukan kepadaku, surat dengan amplop wangi dan berwarna cerah.
            Perlahan aku buka, tanganku gemetar, jantungku berdebar-debar. Aku membacanya, kata demi kata. Sebuah surat yang memang ditujukan dengan maksud tertentu sehingga kata-kata yang tertuliskan sangat indah. Aku semakin terbuai, seluruh indera tersedot oleh kata-kata itu, sangat manis dan romantis. Aku sungguh berubah seratus delapan puluh derajat setelah membaca surat itu, surat dari Yadi yang berisikan kata-kata indah dengan maksud ingin mencintaiku seumur hidup. Sungguh, tak pernah kusangka jika dia dapat menulis kata-kata seindah itu. Sumpah! Baru kali ini aku membaca kalimat-kalimat yang menakjubkan, seperti bait-bait puisi. Dan di hari-hari berikutnya, aku menerima cinta Yadi sampai kami menikah.
            Bunga-bunga cinta tumbuh dengan sendirinya, aku mengandung seorang bayi, usianya sudah enam bulan. Bayang-bayang masa depan telah dipelupuk mata, aku akan menjadi seorang ibu, dan membina rumah tangga bersama Yadi. Sampai suatu hari, aku dikejutkan oleh seorang tamu perempuan, perutnya hamil seperti diriku. Ia datang dengan wajah muram, rambutnya kusut lalu bersujud ke kakiku dan menangis tersedu-sedu.
            “Maafkan aku, sungguh aku sangat menyesal!” Ia terisak-isak.
            “Ada apa ini?” tanyaku.
            “Aku sangat tidak berguna, sangat tidak bisa berguna hingga aku membiarkan diriku disakiti oleh seorang laki-laki.”
            “Maksudmu?”
            “Aku sedang hamil, dan anak ini adalah anak suamimu.”
            Seperti tersambar petir disiang bolong, aku terperangah—telingaku berdengung mendengar perkataannya. Tidak bisa dipercaya. Ya, aku tidak percaya, apakah mungkin suamiku berbuat serong? Aku duduk, seluruh tubuhku terasa lemas.
            “Apa aku tidak salah dengar?”
            “Tidak… sungguh aku minta maaf, kami sudah menikah siri tujuh bulan yang lalu.”
            Saat perempuan itu menangis tersedu-sedu dan aku yang sudah tak karuan mendengar segala ceritanya, Yadi datang. Dia tercengang melihat ada dua wanita yang dikenalnya, matanya mengisyaratkan bahwa dia bersalah. Aku segera membrondongnya dengan berbagai macam pertanyaan, sampai akhirnya dia mengakui bahwa perempuan itu memang istrinya. Aku sangat marah, merasa dibohongi oleh orang yang sangat kupercayai, perasaan benci ketika awal bertemu muncul kembali, bahkan sekarang sangat membencinya sebab hatiku benar-benar hancur.
            “Pilih dia atau aku!” bentakku.
            Yadi diam saja, dia tampak kebingungan. Sementara, perempuan itu hanya menangis, rupanya dia sudah pasrah. Melihatnya hatiku tiba-tiba luluh, ada rasa kasihan terhadap dirinya. Apalagi perutnya sudah jelas terlihat membesar.
            “Baiklah… kalau tak kamu jawab, biarkan aku yang mundur.”
             Yadi dan perempuan itu terkejut. “Aku akan memilihmu,” kata Yadi.
            “Tidak, aku sudah sangat sakit hati. Aku yang tidak memilihmu.”
            Hatiku sudah terlanjur kecewa, seorang lelaki yang sudah sekali berbohong, bagiku akan tetap berbohong selamanya. Aku memilih untuk hidup sendiri, untuk tidak ingin lagi mengenal laki-laki, aku sudah sangat benci terhadap laki-laki. Mungkin bayi yang kukandung ini juga laki-laki, aku tidak ingin bayi ini lahir tanpa seorang ayah.
Hari-hari kulalui seorang diri, aku memendam benci, kalut dan penuh dengan kekecewaan, buah dari perantauanku dan kecintaanku terhadap laki-laki. Namun, usahaku untuk menggugurkan kandungan tidak berhasil, perutku semakin membesar. Orang tuaku selalu menyalahkan aku karena tindakanku yang terlalu ceroboh memilih seorang suami. Aku melahirkan dalam keadaan stress, kacau dan dendam. Dan orang-orang terdekatku tidak pernah ada, tidak pernah ada.
            Sekarang, aku merasa bersalah terhadap anakku, perbuatan seorang ibu yang ingin menggugurkan kandungannya sendiri. Sungguh, perbuatan yang tidak harus ditiru oleh siapapun. Aku memandang wajah anakku, tersenyum bahagia memakai toga. Seolah memberikan berita bahwa hidup harus terus berjalan, harus selalu diperjuangankan untuk mewujudkan impian. Anakku telah menjadi seorang sarjana. Sungguh, aku sangat merasa berdosa, bagaimana mungkin dulu aku akan menyia-nyiakan anak yang kini menjadi kebanggaanku. Air mataku keluar semakin deras di depan foto yang masih tersenyum menatapku. Berharap air mata ini menetes untuk terakhir kali.

Agustus, 2013.

Read more...

  © Free Blogger Templates Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP